selamat menikmati...
Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curcol. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Januari 2012

MENCRET


Entah sejak kapan, saya tak ingat betul, tiba-tiba saja saya sering diare alias mencret. Dan yang membuat jengkel, hal tersebut berlangsung tidak mengenal waktu dan situasi. Kadang waktu asyik-asyiknya bekerja, atau sedang berbincang dengan kawan, mendadak isi perut saya bergolak, mendesak ingin cepat keluar. Juga, ini yang lebih menjengkelkan lagi, pada saat-saat genting atau terburu-buru, penyakit sialan ini selalu muncul tanpa pernah diduga, misalnya saja saat mau berangkat ke tempat kerja padahal waktu sudah mepet, atau saat bepergian jauh (entah itu pakai kendaraan umum atau pribadi) tiba-tiba saja di tengah perjalanan ia juga muncul tanpa sebab yang jelas. Saya benar-benar keki abis dibuatnya.

Demikianlah. Setelah menyimak sedikit penuturan saya tadi, Anda pasti mengira saya stres, pikiran sedang tertekan atau semacamnya, sehingga bisa seperti itu. Mungkin Anda benar. Banyak orang stres mengalami hal-hal aneh, salah satunya demikian. Saya mula-mula juga berpikir seperti itu juga. Namun, kemudian saya mengesampingkan prakiraan itu. Ya, tersebab di saat hati saya lapang, gembira ria dan tidak memikirkan hal berat pun tiba-tiba saja saya sering merasa diare, yang seterusnya bersambung menjadi buang hajat encer berkali-kali. Bahkan dalam kondisi mengantuk atau tertidur lelap pun saya sering tergeragap, perut saya meronta, kemudian cepat-cepat berlari ke belakang.

Pengalaman lebih ngenes lagi, pernah saya alami sewaktu menjalankan ibadah wajib Sholat Jum’at di masjid kampung. Di saat sedang terkantuk-kantuk mendengarkan khatib di mimbar, mendadak mencret saya kambuh. Saya benar-benar belingsatan, berusaha menahan sekuat tenaga agar tidak keluar di dalam masjid, padahal khutbah masih akan berlangsung lama. Merasa bakal tak mampu lagi menahannya, akhirnya saya buru-buru keluar masjid menuju toilet. Tapi apa daya, sebelum sampai di toilet tahi itu sudah keluar di celana. Benar-benar hari yang mengenaskan, hari itu saya tak jadi menunaikan Sholat Jum’at, buru-buru langsung pulang ke rumah.

Tapi pengalaman paling parah terkena mencret atawa diare ini, saya alami beberapa tahun lalu saat masih kerja di Jogja. Seharian di tempat kerja, saya tak terhitung bolak-balik toilet sampai badan saya lemas bukan main. Dan tidak senyaman di rumah, di tempat kerja saya harus antri dengan pengguna lain, karena jumlah toilet yang terbatas. Begitulah, setiap beraktivitas di tempat umum saya selalu berdoa agar dijauhkan dari diare dan perut yang meronta-ronta ini. Seandainyapun hal itu tak bisa dihindarkan, saya memohon dengan sangat  kepada tuhan agar diberi kemudahan dan kemampuan untuk mengatatasinya, minimal tidak keluar di celana.

Maka, jangan heran jika Anda melihat isi tas atau dompet saya, disitu pasti terselip obat pencahar mencret semacam diapet, diatab, entrostop dan semacamnya. Terkadang di saku celana, saya pun menggembol kerikil kecil. Konon menurut kepercayaan, yang entah datangnya dari mana, hal itu bisa memudahkan ngampet kepising (menahan buang air besar tiba-tiba). Mungkin karena sugesti, sedikit banyak saya merasakan keampuhan kerikil itu. Saya sebenarnya orang yang berpikiran logis, menghindari takhayul dan hal-hal yang tidak rasional. Namun ketakutan saya yang amat sangat pada diare membuat saya melakukan itu semua. Sungguh dalam hati, sebenarnya saya menangis.

Demikianlah, sampai saat ini saya masih mencari cara yang ampuh untuk mengatasi masalah pelik ini. Dari hari ke hari, saya terus memompa semangat, tak mudah menyerah melawan diare. Mencret bisa dilawan kapan saja datangnya. Tak ada penyakit yang tak bisa dikalahkan, asal kita gigih melawannya. Apalagi cuma sepele seperti mencret. SEMOGA....!!

Tambak, 20 : 46

Senin, 09 Januari 2012

SAYA DAN SASTRA


Mulanya saya tak menyangka bisa tertarik dunia sastra, ikut kumpul-kumpul dengan para pegiat sastra, belajar menulis, kemudian beberapa tulisan saya pun  (terutama cerpen), walau tak banyak, bisa masuk koran atau tergabung dalam beberapa antologi bersama. Sungguh saya tak menyangka sama sekali, saya yang mulanya kuliah di pariwisata (perhotelan), kemudian banyak tertarik ke bisnis dan semacamnya, menjadi pekerja toko selama bertahun-tahun yang notabene lebih banyak bergumul dengan barang dan jasa, tiba-tiba bisa bersinggungan dengan dunia sastra. Ya, dunia baru yang saya yakini banyak merubah hidup saya dalam banyak hal. Paling tidak, selama tiga tahun terakhir ini, saya merasakan warna lain dalam kehidupan saya.

Bagaimana saya bisa berkenalan dengan sastra ? Ini bermula sekitar tahun 2007, ketika era internet mulai merambah kota kecil saya. Warnet-warnet mendadak tumbuh subur di sekitar saya. Warnet, kala itu menjadi lahan bisnis yang menjanjikan, selalu ramai di pagi, siang hingga malam hari. Saya yang tertarik dengan hal baru, seperti mendapat kesenangan baru. Sepulang kerja (saya kebanyakan masuk kerja siang hari kemudian pulang di malam hari, sekitar jam sepuluhan), hampir dipastikan mampir disana. Dari sekian banyak mainan saya di internet, salah satunya adalah blog dan friendster (waktu itu facebook dan twitter belum jaya seperti sekarang). Dari sanalah, pelan-pelan saya mulai bersinggungan dengan dunia sastra. Sejatinya, saya memang gemar menulis, tetapi bukan sastra, melainkan artikel-artikel umum seperti kebanyakan. Sesekali artikel saya juga pernah dimuat di koran kala itu. Lewat blog, saya bisa mengaktualisasikan hasrat saya menulis. Hampir setiap hari saya selalu mengupdate blog. Saya pun kemudian berkenalan dan saling sapa dengan sesama blogger. Dari sekian banyak blogger yang saya kenal, ada beberapa yang hobi menulis sastra, bahkan ada pula yang bisa disebut sastrawan beneran. Ditunjang kemudian dengan jejaring sosial seperti friendster, maka pergaulan saya pun semakin intens dengan mereka. Saya pelan-pelan mulai mengenal sastra, seperti cerpen, puisi dan semacamnya. Saya banyak bertanya dan belajar tentang sastra kepada mereka. Sedikit demi sedikit saya mulai menulis sastra. Waktu itu, saya malah lebih banyak menulis puisi dibandingkan dengan  cerpen di blog saya.

Demikianlah, saya terus akrab dengan sastra. Kebetulan pula, di dunia nyata, saya juga mulai berkenalan dengan pegiat sastra di daerah saya, Kulon Progo. Komunitas Lumbung Aksara, adalah  komunitas sastra tempat saya kemudian berkenalan dengan sastrawan-sastrawan hebat seperti Marwanto, Akhiriyati Sundari, Aris Zurkhasanah, A Samsul Maarif, Fajar R Ayuningtyas, Oshepe HW dan lain-lainnya. Dari merekalah saya belajar. Sungguh, saya banyak menimba ilmu dari mereka.

Waktu terus bergulir, walaupun terbata-bata karena pekerjaan, saya tetap berusaha meluangkan waktu untuk menulis sastra dan sesekali berkumpul dengan kawan-kawan pegiat sastra. Dalam kurun itu, sampai saya kemudian berganti pekerjaan, tulisan sastra saya, utamanya cerpen, satu dua bisa nyangkut di media. Semua berjalan begitu saja, sampai kemudian di era facebook dan twitter ini, saya bisa berkenalan dan berkawan dengan selebritis-selebritis sastra, yang dulu hanya saya tahu namanya saja, karena sering nongol di koran. Dan dari mereka, saya makin belajar dan mencintai sastra. Membaca dan menulis, saya usahakan sebisa mungkin.

Begitulah, lewat sastra saya benar-benar mendapatkan perubahan yang luar biasa, baik dalam pemikiran maupun tingkah laku sehari-hari. Saya juga makin peka terhadap lingkungan sekitar, makin bisa menerima kehidupan ini dengan semestinya. Lewat sastra, saya seperti menemukan ketenangan dan kedamaian, juga kawan-kawan yang berbeda, menambah banyak warna dalam pergaulan.

Mungkin, satu yang terpenting dari banyak makna itu, lewat sastra pula, saya mulai berani mencintai perempuan dengan terang-terangan. Ya, dari salah satu sisi persinggungan saya di dunia sastra, saya menemukan perempuan yang saya yakini akan mendampingi hari-hari saya sampai kelak nanti. Mudah-mudahan demikian adanya. Dan selebihnya, saya benar-benar bahagia dan menganggap sastra adalah bagian penting dalam hidup saya.....

Gunung Mijil, 22 :55

Senin, 02 Januari 2012

RESOLUSI


Tahun baru selalu menjadi patokan untuk berbenah atau menata kembali berbagai hal menuju yang lebih baik. Ya, banyak orang beresolusi, menata kembali keinginaan-keinginan, kemudian mematok target dan bertekad memulainya dengan semangat yang fresh di tahun yang mulai ditapaki. Lalu, ketika kemudian ada orang bertanya kepada saya, tentang resolusi saya di tahun 2012 ini, saya tercenung. Ternyata tidak seperti kebanyakan orang, saya menganggap setiap perguliran waktu –tahun baru, dsb-- adalah suatu ketentuan alam, kehendak tuhan yang pasti akan begitu. Waktu terus bergulir, dan umur kita akan berkurang, sedang semua keinginan tak semuanya terpenuhi.

Anda mungkin menganggap, saya orang orang yang tak mempunyai motivasi -- hidup apa adanya, tak punya keinginan macam-macam, dan memasrahkan nasib pada perjalanan waktu. Ya, mungkin Anda menganggap begitu. Saya orang yang tak mempunyai tujuan hidup jelas, terlalu nyantai dan pasrah apa adanya pada kehidupan yang berlangsung. Mungkin itu ada benarnya, tetapi saya yakin, saya tidak seperti itu. Paling tidak, saya selalu serius dalam mengerjakan sesuatu. Saya memang tak mematok target, tetapi selalu sungguh-sungguh menjalani hidup ini. Dan saya selalu ingat tuhan, dzat yang saya yakini menciptakan saya, membuat saya yakin bahwa setiap jengkal kehidupan, apapun itu selalu memiliki makna.

Saya suka kejutan-kejutan, dan sampai saat ini banyak kejutan dalam hidup saya. Dalam banyak hal, banyak yang dulu saya pikir atau kebanyakan orang pikir mungkin mustahil saya dapatkan, tiba-tiba saya raih begitu mudahnya. Ya, perjalanan hidup saya sampai detik ini, tidak pernah saya duga akan seperti sekarang ini. Dan itu saya lalui tanpa target, hanya mengikuti alur kehidupan begitu saja, namun yang pasti saya jalani dengan sungguh-sungguh. Dan kejutan bertubi-tubi saya alami, entah itu pahit atau manis. Yang jelas, dalam kejutan-kejutan hidup itu saya menemukan banyak makna, banyak rasa syukur yang harus saya ucapakan kepada Sang Maha Pencipta.

Demikanlah, dalam setiap perguliran waktu seperti pergantian tahun ini, saya tak punya resolusi apa-apa, hanya  kejutan-kejutan baru yang saya harapkan. Selamat menapaki Tahun 2012, semoga Anda memperoleh banyak makna di dalamnya nanti....:)

Gunung Mijil, 17 :12

Rabu, 14 Desember 2011

MENJADI PEMULUNG


Menjadi pemulung, ya menjadi pemulung beneran, itu cita-cita saya waktu kecil. Saya tak mengada-ada, saya pernah mempunyai cita-cita itu selama beberapa waktu. Menurut pikiran kanak-kanak saya dulu, menjadi pemulung itu mudah, tak perlu pintar dan sekolah tinggi, tak banyak saingan, dan tentu saja uang yang didapat cukup lumayan untuk mencukupi kebutuhan hidup anak seusia saya waktu itu (jajan, dsb). Saya sering melihat, para pemulung mendapatkan berlembar-lembar uang dari pengepul, cukup hanya mengumpulkan rongsokan, atau barang-barang bekas lainnya.

Demikianlah, saya waktu kecil, mungkin sekitar kelas empat SD sampai awal-awal SMP, mulai bergerilya mengumpulkan barang-barang bekas, seperti botol dari beling, besi, barang plastik sampai kertas-kertas koran. Barang-barang itu saya kumpulkan dari seputaran rumah sampai pekarangan tetangga. Yang masih saya ingat betul, sering saya menyusur rel kereta api yang membujur di sebelah utara rumah saya, hanya untuk mengumpulkan kertas-kertas koran yang bertebaran di sepanjang rel, buangan dari para penumpang kereta api. Ya, selain mendapatkan uang dari hasil jualan kertas koran itu ke pengepul, saya mendapatkan manfaat lain, bisa update berita setiap hari dari situ. Saya memang hobi membaca sejak kecil. Koran-koran yang bertebaran di sepanjang rel kereta api itu, kebanyakan masih koran-koran baru. Dulu mendapatkan informasi tidak semudah sekarang, koran masih menjadi sumber utama mendapatkan informasi paling cepat dan akurat.

Itu hanya sekedar cerita, mengenang masa lalu saja, seiring berjalannya waktu dan banyak hal lain yang mewarnai kehidupan saya, perlahan-lahan saya melupakan cita-cita tersebut. Sampai beberapa waktu lalu, tiba-tiba saya teringat kembali pada kenangan masa kecil itu.

Ada setidaknya dua hal, yang membuat pikiran saya melambung ke masa silam. Pertama, dalam sebuah kegiatan, yang mempertemukan saya selama beberapa waktu dengan orang-orang dari bermacam-macam lingkup kerja, saya bergaul dengan seorang yang begitu getol dan bersinggungan dengan sampah. Beliau, yang sekarang bisa disebut kawan saya itu, adalah pegawai pemerintah bagian Dinas Kebersihan. Karena pekerjaannya--dia bertugas di pembuangan akhir sampah--kawan saya ini bisa nyambi menjadi semacam pengepul, dan baru saya tahu kemudian, lingkupnya sudah cukup lumayan besar menurut penilaian saya. Dia sudah mempunyai langganan, memasok barang-barang bekas--yang sebagian besar dia pilah-pilah dari sampah--sampai ke Surabaya. Saya pernah berbincang dengannya, ia ingin mengembangkan dengan serius usaha tersebut. Dia paham betul dengan sampah, bagaimana mengelolanya sampai kemudian mendapatkan penghasilan dari situ. Kawan saya ini, membuat perhitungan dengan angka-angka, bagaimana usahanya nanti bisa maju. Dan sungguh, saya kagum sekali dibuatnya. Nah, dari situlah pikiran saya terbuka. Betapa sampah, yang bagi sebagian orang mungkin menjijikan dan tak ada nilainya, ternyata bisa memberikan hasil dan penghidupan yang tidak kecil bagi banyak orang. Saya juga melihat kemudian, banyak orang yang dihidupi dan disejahterakan dari sampah—pemulung, pengepul, dst-- termasuk kawan saya tersebut.

Itu hal pertama. Hal kedua yang mengingatkan saya pada sampah, adalah kawan saya satu kerjaan. Dia sosok yang bagi saya berpikiran kritis, dan sangat peduli dengan banyak hal, yang mungkin di luar pemikiran banyak orang. Dan salah satu  yang menjadi kepedulian kawan saya ini adalah masalah sampah. Ya, sampah yang berserakan dan bertebaran dan membuat tidak sedap pandangan mata disana-sini. Dia membentuk semacam grup dengan beberapa kawannya, mengajak dan menggalang orang-orang dari berbagai kalangan lewat berbagai media pula -- fesbuk, koran, dll--untuk peduli dan bergerak nyata menangani masalah tersebut. Dengan sukarela dan biaya sendiri, kawan saya ini membeli kantong sampah kemudian mengajak berbagai kalangan  bergerak nyata membersihkan sampah yang bertebaran di berbagai sudut lokasi. Dan sungguh, walau tidak semua orang merespon dengan baik, tetapi secara umum gerakannya tersebut mendapat perhatian khalayak. Beberapa orang dengan kesadaran sendiri, turut membantu memunguti sampah kemudian membuangnya di tempat yang semestinya. Saya, walau baru sekali ikut, turut antusias melakukannya. Sejauh ini, untuk wilayah tertentu, kegiatan bersih-bersih ini bisa terkondisikan setiap minggunya.

Demikianlah, kawan saya ini terus bergerak dengan idealismenya. Memang, diperlukan orang-orang bermental baja seperti dia untuk sebuah perubahan yang lebih baik. Sampah, di berbagai tempat sudah menjadi masalah sosial. Seyogianyalah, dalam kerangka penyelesaian yang lebih besar, pihak-pihak terkait dan punya kekuasaan mempunyai kebijakan yang jelas untuk mengatasinya. Dan masayarakat dengan kesadaran sendiri, sekali lagi : dengan kesadaran sendiri, mau dan peduli terhadap masalah ini. Dan kesemuanya itu perlu teladan dan contoh, walau mungkin hanya melakukan hal-hal sepele, namun apabila dilandasi dengan niat tulus dan berkesinambungan, niscaya perubahan yang lebih besar menuju hal yang lebih baik akan dapat diperoleh. Saya pun yakin, kawan saya tersebut sedang berjalan menuju kesana.

Begitulah, dua hal yang melambungkan pikiran saya ke cita-cita masa kecil kemudian merembet ke masalah sampah ini. Ada sebuah kesimpulan sebenarnya yang bisa ditarik dari sini, bahwasanya walau merupakan hal sepele, kalau dikelola dengan baik, sampah bisa menjadi lahan yang menjanjikan untuk memperoleh penghasilan, seperti dilakukan kawan saya yang pertama tadi. Bila semua orang berpikir sampah adalah harta yang patut diperlakukan dengan baik dan semestinya, tentulah hal-hal negatif tentang sampah bisa diminimalisir, dan gerakan kawan saya yang kedua, saya lihat dalam kerangka tersebut—penyadaran kepada masyarakat bahwa sampah adalah persoalan bersama, atau  malah bisa dikatakan harta terpendam bersama, yang sungguh sangat sayang bila kita tidak menyadarinya.

Sebagai penutup, saya sudah lama tidak menulis, ini adalah tulisan sambil lalu pertama saya. Semoga bermanfaat. Setidaknya, dalam bayangan saya kemudian, ada krenteg untuk menggapai keinginan masa kecil saya menjadi seorang pemulung. Mungkin bukan pemulung yang sebenarnya, melainkan sebuah kesadaran untuk memberdayakan sampah atau barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupan. Semoga.

sudut kamar, 20:53